1. Ketika berganti agama lebih mudah dari berganti kewarganegaraan…

    Awal kata, aku bilang ini cuma uneg-uneg. Jangan dibawa serius, apalagi dibawa kesal. Kalau mau dibawa ke sana, mending jangan dibaca. Oke aku sudah bilang ya?

    Ratna Sari Dewi Soekarno yang sudah berpuluh tahun tidak tinggal di negara ini ternyata tetap memegang kewarganegaraan Indonesia. Alasannya ketika menjadi seorang istri kepala negara, kewarganegaraan sudah tidak dapat diganti.

    Buat aku, Tuhan itu seperti Bapak. Ada pepatah, boleh ada mantan suami tapi tidak pernah ada mantan Bapak. Ibu Dewi Soekarno begitu ‘terikat’ dengan kewarganegaraan yang didapat karena suaminya. Lalu bagaimana dengan ikatan kita sebagai manusia dengan Tuhan?

    Aku tidak berniat menyalahkan siapapun. Berganti agama itu kebebasan (bahkan kamu mau bilang kalau aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku tahun-tahun ke depannya bukan? Haha).

    Untunglah Indonesia ini menganut monogami, bukan monogama. Lucu. Manusia ini banyak yang takut sama istrinya, tapi tidak takut sama Tuhannya.

    Okelah, aku tahu agama itu urusan manusia dengan Tuhan. Jadi akupun, yang masih tercatat sebagai manusia, tidak ada wewenang untuk mengurusi hal ini.

    Hmm berarti aku sudah terlalu jauh. Untuk itu, maaf atas kelancanganku

    (.)